Ketika Malam Hanya Sebuah Kegelapan

Dulu, tidak ada yang menyangka bahwa kelak satu keluarga ini bakal kehilangan tempat tinggal.

Pada awalnya kepercayaan yang terlalu tinggi yang di dasari oleh rasa kekeluargaan; saudara kandung membuatnya lemah.

Memang sang Ayah dan Ibu telah mewariskan sebuah rumah kepada si anak pertama. Tapi tanpa ada hitam di atas putih. Hanya berupa kata-kata penuh harap yang di saksikan oleh pasutri tetangga.

Sang Ayah wafat…
Merupakan pukulan berat untuk semua anggota keluarga ini. Tapi sedikit kelegaan bagi sang “ratu” dan putra mahkota kedua dan si bungsu. Karena setelah si Ayah wafat, mereka mulai menjual satu-persatu sisa-sisa perjuangan Ayah mereka. Bagaimana si Sulung? Apa kabar dia? Iya, dia tetap memiliki bagian dan masih termasuk rumah. Tapi hanya sebagian dan tidak terlalu bermutu.

Ibu pun pergi…
Setelah di operasi dan konon menghabiskan ratusan juta biaya rumah sakit, inilah yang menjadi dasar keserakahan dan iri hati. Tanpa memandang si sulung sebagai bagian keluarga. Rumah yang tadinya sudah menjadi miliknya pun menjadi persengketaan yang tidak di inginkan si sulung.

Pada akhirnya rumah itu tidak ada lagi. Si sulung dan keluarga kecilnya menumpang di rumah mendiang pasutri tetangganya yang dulu adalah saksi ahli waris.

Pertanyaannya adalah “mengapa dia tidak mempertahankan dan melawan?”

“Harta dan jabatan hanya ada di dunia, dan pada akhirnya keserakahan hanya akan menimbulkan perpecahan”

“Bukan kami yang memutuskan persaudaraan ini tapi merekalah yang tega membuang bagian dari dirinya”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s