Sahabat, waktu yang hilang.

Dulu, sebelum beberapa dari kami belum menikah intensitas kumpul-kumpul hampir sering sekali. Bahkan hampir setiap hari. Itu terjadi mungkin karena selain kerjaan masih gak jelas (gak nganggur juga hanya saja kerjaan masing-masing tidak terlalu mengikat waktu itu) atau mungkin juga karena memang masih disatukan dengan kegiatan yang sama.

Namun, disaat masing-masing sudah mulai sibuk dengan visi baru yang membuat kita jarang lagi berkumpul. Bahkan komunikasi pun hanya sekedar emotikon di jejaring sosial. Tidak ada yang salah sebenarnya, hanya saja semua kini terasa berbeda.

Meski begitu aku masih sering mengingat dan merasa rindu akan kebiasaan yang pernah kita lakukan. Hal yang menyenangkan ketika melihat mereka baik-baik saja dengan kegiatan baru dan teman barunya. Ingin rasanya menjadi orang yang dibutuhkan, bukan untuk menjadi teman jalan, makan-makan dan lainnya. Tapi sekedar teman cerita. Bukan menjadi orang pertama tau tentang pencapaian sukses, tapi menjadi pendengar tentang kesulitan yang di hadapi. Tidak harus orang pertama, menjadi orang terakhir pun lebih baik daripada tidak sama sekali.

“Sahabat, adalah mereka yang tidak mutlak harus selalu ada disisimu. Tapi, mereka mutlak selalu menerima mu ntah saat itu kamu bahagia atau sedang kesusahan”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s