Ayah…

Standard

Seingatku dia bukanlah orang yang banyak menuntut. Bukan orang yang berambisi akan sesuatu. Kutau beliau orang yang cerdas. Bukan orang narsis yang pintar menunjukkan rasa sayangnya kepada kami. Walaupun sebenarnya beliau memendam. Maksudnya suka menasehati kami untuk tidak mendendam. Padahal beliau sendiri bukan orang yang mudah untuk melupakan jika tersakiti.

Meski beliau jarang bercerita tentang kesulitan yang dia hadapi sebagai kepala keluarga, Aku tau jika dia sedang kesusahan. Ada banyak hal yang terjadi dan banyak perubahan yang di alaminya. Satu yang tidak pernah berubah adalah rasa cintanya terhadap keluarganya. Ayah, aku bangga memiliki sosokmu yang pekerja keras, pemimpin keluarga yang bijak, jauh dari pendendam.

Hingga hari ini Aku masih sering memintamu pendapat. Masih terus bertanya tentang langkah yang kuambil. Ayah, terima kasih.

“Maaf belum bisa membalas semua yang telah kau berikan kepada kami anak-anakmu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s