Kopi itu Jujur

Berawal dari twitnya Supet yang berisi tentang sebuah toko oleh-oleh khas Makassar yang menawarkan aneka jenis kopi. Membuatku penasaran apakah benar rasa kopinya memang nikmat dan apa yang membuat toko ini bertahan sejak 1930 hingga sekarang.

Berada di Jalan Somba Opu, dan berseberangan dengan Toko Keradjinan yang juga menjual oleh-oleh khas kerajinan tangan Makassar, toko Ujung memang tidak nampak seperti toko oleh-oleh pada umumnya. Selain dipenuhi etalase yang tersusun rapih dengan kopi berbagai jenis dalam kemasan, terdapat sebuat set coffee bar dan meja untuk tamu yang sekedar ingin mencicipi nikmatnya olahan kopi di toko ini.

Saya belum sempat bertanya ini-itu tentang siapa generasi pertama yang mengelola toko oleh-oleh ini. Tapi dari yang saya liat, proses perkembangan toko ini tidaklah instant sama halnya dalam mengolah biji kopi menjadi secangkir espresso yang nikmat. Saya yakin ada proses jatuh-bangun yang di alaminya.


Tapi bukan itu yang ingin saya tulis disini. Kembali ke rasa kopi dan jenis olahan minuman apa yang ada disini? Bagi kalian yang sering nongkrong di coffeshop pasti sedikit banyak tau lah minuman kopi yang disajikan. Hampir sama semua sih sebenarnya. Tapi mungkin bedanya adalah orang-orang yang melayaninya. Di coffeshop, yang mungkin sekedar membuatkan pesanan pelanggannya. Disini, adanya percakapan antara pelanggan dengan pengelola toko.

Saya sendiri sempat bingung dan akhirnya diberi pilihan kopi apa yang nikmat untuk siang ini. Karyawan tokonya ramah-ramah dan tidak bosan menunjukkan bagaimana mereka memanggang biji kopi, mengemas dan bahkan hanya sekedar membalas senyum pelanggannya. (Ini salah satu alasan yang membuat toko ini makin ramai disinggahi). Setidaknya ini pendapatku setelah pertama kali singgah di Toko Ujung. Oh iya hampir lupa, toko ini juga menjadi set sebuah film lokal yang merupakan lanjutan dari film pertama dengan judul yang sama. Bangga dong kita karena salah satu lokasi film ini di Makassar. Tepatnya di Toko Ujung Jalan Somba Opu, Makassar Sulawesi Selatan.

Berapa tahun menetap di Makassar, dan seringkali lewat jalan Somba Opu baru kali ini saya tau ada toko untuk beli kopi atau sekedar duduk menikmati secangkir kopi sambil melihat aktifitas pusat ekonomi tertua di Makassar.

“Ini tentang kejujuran rasa dari kopi. Karena semua orang tau rasa pahit dan warna hitamnya tidak membuat aromanya dibenci, justru semakin dicintai. Setidaknya bagi mereka pecinta kopi”.

Advertisements